Muhasabah Cinta I

Bertemu lelaki muda yang berusia 3-4 tahun lebih tua darimu, seorang dokter, ganteng, baik dan yang paling penting tidak bermulut perempuan. Perempuan mana yang tidak runtuh tembok pertahanannya, setidaknya pasti melirik barang hanya satu dua detik.
Senin pagi ini adalah hari sekaligus minggu pertama magang di rumah sakit. Di minggu pertama ini kelompokku mendapat ruang yang cukup dahsyat, instalasi gawat darurat atau IGD. Rasanya deg-degan, sedikit takut, serta penasaran yang sangat dominan. Pagi ini adalah awal dari segalanya, awal dari segala petualangan sebagai mahasiswa magang. Pasien pertamaku pagi ini adalah seorang ibu yang datang dengan wajah pucat, saat itu ibu mengatakan bahwa pagi ini dia mengeluarkan darah bergumpal dari jalan lahirnya. Aku mencoba mengaplikasikan ilmu yang ku punya karna selain untuk menambah ilmu dan mempraktekkan mahasiswa magang di tuntut totalitasnya layaknya mereka yang sudah bekerja tentusaja dengan di dampingi senior. Ketika itu seorang dokter muda memeriksa si ibu, dan kebetulan stetoskopnya bermasalah.
"Dek. Pinjem stetoskopnya ya."
Aku hanya mengangguk. Suaranya seperti telah disukap oleh setan untuk menggodaku, pelab tapi penuh aura. Nadanya biasa saja terkesan cuek, malah sama sekali tidak menunjukkan suara seorang penggoda ataupun perayu. Tapi godaan setan ketika itu memang begitu dahsyat, sampai-sampai ucapannya yang begitu sederhana terngiang di telinga.  Tidak hanya sampai disitu, ketika dia memeriksa pasien aku begitu antusias memperhatikannya, niatnya untuk menambah ilmu dan pengalaman. Tapi saat itu aku merasa dia begitu mempesona (astaughfirullah), entah bagaimana awalnya otakku mendeskripsikan wajahnya, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, sampai kumisnya yang khas anak muda tidak begitu tebal tapi rapi. Penampilannya pun tak kalah kece, gayanya sederhana tapi tetap saja membuatnya terlihat keren.
Pesona dokter muda itu ternyata tidak hanya menyerangku, hampir semua teman sekelompok yang benar-benar perempuan kepincut dengannya. Sinyal penasaran dan kekepoan hadir, namanya tidak ada yang tau karena dia tidak pernah memakai name tag di jas dokternya. Dan yang menjadi masalah nyali kami untuk berkenalan atau hanya sekedar bertanya nama sangat ciut, apalagi untuk menanyakan namanya pada kakak senior lain. Tapi belakangan ini sumber terpercaya mengatakan bahwa dia adalah orang batak, namanya Roy Panjahitan. Seketika itu tuntuh sudah harapanku, angan-anganku, tepatnya aku agak kecewa mendapati kabar tersebut. Tujuh puluh persen kemungkinannya dia berbeda keyakinan. Tidak bisa di tolerasni. Apapun peketjaannya, seberapa sukses, kaya, dan gantengnya itu sudah tidak masuk kriteria (padahal belu  tentu dia mau denganku).
Dua hari setelah kabar tersebut menyebar dikalangan anak magang, ada hal berbeda yang terjadi. Siang itu ketika aku hendah solat dzuhur di mushola aku melihat seseorang yang sangat ku kenali, begitu jelas. Mushola itu memang tidak bertembok, hanya bertiang dengan nuansa hijau dan bebatuan. Saat itu jantungku terasa ingin lompat dari tempatnya ... (bersambung...)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Manajemen kebidanan (7 langkah varney dan SOAP)

Feel Sad Wihtout Any Reasons. (Sedih Tanpa Alasan)